WAKALA DIRHAM BIMA

Thursday, 25 November 2010

CANTONA CALLS FOR REVOLUTION

Eric Cantona has taken it upon himself to promote a revolution against the banking oligarchy calling for everyone to take their money out of the banks.

In an October interview with Nantes newspaper Presse Ocean, as France endured a series of nationwide strikes against President Nicolas Sarkozy’s plans to raise the pension age, Cantona questioned the effectiveness of street protests.

He said: “I don’t think we can be entirely happy seeing such misery around us. Unless you live in a pod. But then there is a chance… there is something to do. Nowadays what does it mean to be on the streets? To demonstrate? You swindle yourself. Anyway, that’s not the way any more.

“We don’t pick up weapons to kill people to start the revolution. The revolution is really easy to do these days. What’s the system? The system is built on the power of the banks. So it must be destroyed through the banks.

“This means that the three million people with their placards on the streets, they go to the bank and they withdraw their money and the banks collapse. Three million, 10 million people, and the banks collapse and there is no real threat. A real revolution.

“We must go to the bank. In this case there would be a real revolution. It’s not complicated; instead of going on the streets and driving kilometres by car you simply go to the bank in your country and withdraw your money, and if there are a lot of people withdrawing their money the system collapses. No weapons, no blood, or anything like that.”

He concludes: “It’s not complicated and in this case they will listen to us in a different way. Trade unions? Sometimes we should propose ideas to them.”

Cantona’s ‘revolution’ of sorts – whether he intended it as one or not – has gone viral.

A campaign, bankrun2010.com, has been launched by Géraldine Feuillien, a Belgian screenwriter, and Yann Sarfati, a French actor, in an effort to coordinate the action and make it global.

Blaming the banking sector for pretty much all of the world’s ills, including war, famine and pollution, they are urging supporters to withdraw their money from their bank accounts on December 7.


http://www.ericcantona.com/2010/11/22/cantona-calls-for-revolution/

Saturday, 30 October 2010

Sejujurnya Baim, Sejujurnya Dinar Dirham

Mau pilih dua puluh kertas atau dua puluh lima koin?

Masih ingat potongan iklan salah satu operator selular diatas, yang diperankan oleh Baim, artis cilik?

Pilih yang 25 koin, karena yang 20 bohongan, yang 25 sungguhan,” ujar Baim jujur. Kurang lebih seperti itu apa yang diiklankan. Dengan maksud, bahwa uang mainan yang ditunjukkan oleh saudaranya itu, tidak berlaku walaupun pada saat itu mereka sedang asyik bermain monopoli.

Coba pertanyaan itu diterapkan, jika saya tunjukkan gambar dengan pilihan Rp.20.000 yang beredar sekarang dengan koin 2 Dirham (Dirhamayn)? Anda akan pilih yang mana? Pilih yang kertas atau koin? Dari pertanyaan ini hanya ada dua pilihan, yang tentunya akan sulit dijawab bila yang disodori pertanyaan tidak mengerti apa itu dirham atau dirhamayn.

Yang memilih uang kertas Rp.20.000, tentu punya alasan yang orang awam mengerti. Alasannya jelas, nominalnya lebih besar sepuluh ribu kali lipat dibanding yang koin. Yang pasti, orang yang memilih uang kertas yang ditunjukkan, tidak tahu apa itu dirham dan tidak ingin mencari tahu. Bagi yang memilih koin 2 Dirham, pasti mengerti tentang dirham. Oleh karenanya, ia memberikan pilihannya kepada koin tersebut.

Dirham adalah uang perak murni seberat 2.975 gram dan tidak pernah berubah sejak lebih dari 14 abad yang lalu, dari zamannya Rasulullah saw, yang tercantum juga dalam QS. Yusuf : 20. “Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf.” Tentunya dirham yang disebutkan dalam Al-Qur’an bukan dirham mata uang kertas dari salah satu Negara di Timur Tengah.

Nilai tukar saat ini, 29 Oktober 2010, 1 Dirham adalah Rp. 36.200,-, lebih besar nilainya daripada uang 20ribuan tadi. Pilihan tadi adalah 2 Dirham, senilai Rp. 72.400,-, lebih besar 3.5 kali lipat dari pilihan yang pertama. Tentu saja, nilainya akan tetap abadi sepanjang zaman. Bila tulisan ini dibaca 25 tahun lagi pun, ketika artis cilik tersebut sudah tidak disebut cilik lagi, maka 2 Dirham adalah 2 Dirham dan masih bisa membeli 2 ekor ayam. Bandingkan dengan uang kertas diatas, yang BI sendiri sudah membuat aturan bahwa uang yang diedarkannya hanya berlaku 25 tahun saja. Mungkin uang 20 ribu tersebut hanya berlaku untuk ongkos parkir atau bahkan tidak berlaku lagi, hanya dianggap hiasan dinding atau mungkin sebagai pengganti uang kertas yang hilang pada permainan monopoli yang dimainkan anak cucu kita.

Jika kita kembalikan kepada isi iklan diatas, maka jawaban yang muncul dari orang awam yang sudah sedikit mengerti, “Tentu pilih yang koin 2 Dirham, karena yang Rp.20.000 hanya bohongan dan yang 2 sungguhan.” Dan ini merupakan jawaban yang paling jujur seperti pilihan Baim diatas.

Dan akan muncul pertanyaan-pertanyaan yang serupa, pilih uang lima puluh ribu atau 0.5 dinar? Pilih Rp.100.000,- atau koin 1 Dinar? Silahkan Anda mengajukan pertanyaan serupa 5, 10 tahun atau bahkan setelah Anda mempunyai anak ataupun cucu. Jawaban mana yang akan dipilih? Biarkan anak atau cucu Anda sendiri yang menjawabnya.

Wednesday, 27 October 2010

Memahami Dinar Emas dan Dirham Perak

Memahami Dinar dan Dirham sebagai uang tidak mungkin dilakukan dengan menggunakan ilmu ekonomi makro, karena tujuan diciptakan ilmu ekonomi adalah "ilmu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan modal sekecil-kecilnya dengan hasil sebesar-besarnya".


Manusia tidak sadar kalau kebutuhan manusia tak terbatas, sedangkan sumber daya terbatas, untuk memenuhi kebutuhan tak terbatas ilmu ekonomi, diciptakanlah alat tukar tak terbatas untuk membeli semua sumber daya (alam, manusia) dimuka bumi ini. Hal ini dimulai dari pencetakan alat tukar dari kertas yang diberi angka hingga byte komputer yg berkedip di layar ATM.

"Inflasi adalah kenaikan harga barang-barang secara terus menerus" adalah kebohongan global yang didengungkan oleh para economist. "Kebohongan yang diulang2 akan dipercayai oleh masyarakat". Economist menyembunyikan fakta bahwa "inflasi adalah penurunan nilai alat tukar dari kertas dan byte komputer secara terus menerus."

Menggunakan dinar emas dan dirham perak sebagai uang bukan karena dia anti inflasi -meski memang anti inflasi, melainkan sebagai instrumen beribadah kepada Allah, karena Zakat Maal Nishab dan pembayarannya ditentukan oleh Dinar Emas dan Dirham Perak. Sebagaimana kita mendirikan sholat bukan karena gerakan sholat itu menyehatkan badan karena banyak peregangan sebagaimana yg dilakukan oleh Yoga (mencoba memahami Sholat dengan Ilmu Kesehatan), namun kita mendirikan Sholat karena Allah memerintahkan kita Sholat, dan kita taat.

Segala yg diperintahkan Allah adalah yg terbaik untuk kita, ketika Allah menciptakan dinar emas dan dirham perak sebagai alat tukar (uang) itulah yg terbaik bagi kita, dengannya kita tidak akan mengalami inflasi (penurunan mata uang). Jika terjadi kenaikan harga barang, itu karena penyebab fitrah (paceklik, bencana alam, bukan musim mangga) bukan karena penurunan mata uang.

Ummat Islam sangat dibatasi akses ilmu pengetahuan muammalah oleh para Economist, mereka mengizinkan Ummat belajar Sholat dengan benar, namun tidak mengizinkan ummat mempelajari membayar zakat dengan benar, berdagang dengan benar, syirkat, qirad, guild, dan lain sebagainya. Hal ini tentu menyedihkan, disaat kita berjuang keras menyempurnakan sholat kita, puasa kita, Haji kita, kita asing dengan Zakat kita, Muammalah kita, berdagang kita, dan menggunakan "Ekonomi" sebagai jalan hidup (Dien) kita. Karena kita merasa tidak ingin mengekor bulat-bulat "Dien Ekonomi" ke lubang biawak, maka kita memodifikasi (baca: modernisasi) Dien Islam yang sudah disempurnakan oleh Allah sebagai Dien kita. Sesungguhnya bukan Dien Islam yg perlu dimodernisasi dan diubah-ubah, melainkan diri kita yg harus diformat ulang supaya bersih dari virus2 yg tidak bisa dibersihkan oleh anti virus untuk kembali memeluk Islam secara Kaffaah.

Semoga ajakan saya tidak ditafsirkan sebagai permusuhan.

Wassalamualaykum

Sumber : Disadur dari catatan Riki Rokhman Azis, IT Officer WIN