WAKALA DIRHAM BIMA

Thursday, 14 July 2011

Mahar Unik 8 Dinar 8 Dirham dan 68 Daniq

Sebahagian Masyarakat Pangkalan Berandan sekitar 65 Km dari Kota Medan menyaksikan pengalaman pelaksanaan Muamalah Islam dalam pelaksanaan akad nikah antara Ir. MS Khalid (Mantan ketua PB HMI) dengan ibu Dr Rosdanelli - dosen Fakultas Tehnik USU Medan dan aktivis pengembangan UKM, bertempat di Jalan Imam Bonjol No. 98 Pangkalan Brandan, Sumutra Utara. Acara resmi pernikahan yang dihadiri oleh bukan hanya sanak keluarga dan kerabat terdekat dari Masyarakat Dinar Dirham Sumut tetapi juga dihadiri oleh penyanyi Islam terkenal - Muhsin Alatas. Yang unik lagi mahar mempelai pria adalah 8 Dinar, 8 Dirham dan 68 Daniq beserta satu set tafsir Al Misbah.

Pada saat sekitar 300 undangan dari berbagai kalangan seperti pejabat lokal, akademisi, Kahmi, alumni SMA negeri 3 Medan dan masyarakat UMKM - yang sedang menikmati makanan khas melayu seperti roti jala, kari kambing serta bubur pedas dan anyang, masyarakat Dinar Dirham berdakwah singkat dengan mengumumkan kepada khalayak tentang perlunya kembali menjalankan sunnah. Ini sesuai dengan yang telah ditunjukkan oleh pasangan suami istri yang berencana untuk membuka wakala 'Golden Langkat Berseri' yang melayani Kota Pangkalan Berandan dan sekitarnya.

Masyarakat Pangkalan Berandan, insya Allah menjadi lebih tahu tentang Dinar dan Dirham. Pada saat acara pernikahan tersebut beberapa orang dari undangan langsung bertanya kepada Madinah Sumut dan mempertimbangkan untuk mengetahui lebih banyak dan menggunakan Dinar Dirham di Pangkalan berandan. Insya Allah kita semua mendapat Baroqahnya. Amin

Sumber : www.wakalanusantara.com

Dari Amir Rizal Medan

Krisis Eropa Dari Yunani Ke Italia

Tiga hari lalu (11/7), petinggi Uni Eropa menggelar pertemuan mendadak untuk membahas antisipasi kondisi ekonomi Italia yang terus memburuk. Demikian diberitakan oleh Kontan Online

Hadir dalam pertemuan tersebut, Presiden Dewan Eropa Herman Van Rompuy, Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Jean-Claude Trichet, Ketua Eurogroup Jean-Claude Juncker, Presiden Komisi Eropa Jose Manuel Barroso, Komisioner Ekonomi dan Moneter Uni Eropa Olli Rehn, dan para menteri keuangan Eurogroup.

Menteri Keuangan Austria, Markia Fekter menyatakan, kondisi pasar surat berharga Italia yang terjun bebas, menjadi pembahasan serius. 'Kami ingin mengetahui, bagaimana Pemerintah Italia menangani hal ini,' katanya, kemarin.

Yield obligasi Pemerintah Italia yang diperdagangkan di pasar surat berharga melonjak akibat ketidakpercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi Negeri Piza terhadap rencana penghematan anggaran negara yang dirilis pemerintah. Yield obligasi Pemerintah Italia bertenor 10 tahun, melonjak menjadi 5,39%, Senin. Ini level yield tertinggi untuk obligasi terbitan sebuah negara Uni Eropa.

Kemarin (Senin), regulator pasar modal Italia, sudah memutuskan melarang short selling, setelah indeks harga sahamnya jatuh ke posisi terendah sejak dua tahun terakhir. 'Italia kemungkinan tidak akan mampu membayar obligasinya,' kata Andrew Bosomworth, Fund Manager di Pacific Investment Management Co. 'Proyeksi kami, utang Italia sudah tidak sustainable,' lanjut Bosomworth.

Investor menginginkan otoritas keuangan dan pengambil kebijakan Italia dan Eropa selangkah lebih maju dalam mengantisipasi beban utang. 'Tetapi kami terus dikecewakan,' kata Elwin de Groot, Ekonom Fixed Income Rabobank di Belanda. Koran Jerman, Die Welt mengutip seorang pejabat Eropa menilai, European Financial Stability Facility (EFSF) tidak akan sanggup memikul pendanaan untuk membantu negara-negara Eropa yang terlilit utang, jika Italia ternyata membutuhkan bantuan dana bail out.

EFSF saat ini memiliki amunisi dana sebesar 1,5 triliun Euro, tidak akan cukup menalangi utang Yunani, Irlandia, Portugal, Spanyol dan Italia. Makanya, dalam pertemuan itu, sebagian negara Eropa mengusulkan membiarkan Yunani mengalami default untuk sebagian obligasinya. Ini akan meringankan beban Yunani dan beban negara Eropa yang harus menalangi beban utang negara Euro lain. Cuma, ECB dan negara-negara Eurogroup menentang usulan tersebut. Di sisi lain, ECB sendiri tidak bisa menjamin akan mampu menolong semua negara yang terlilit utang. 'Kita sedang menyaksikan akhir perjalanan hidup sebuah mata uang bernama Euro,' kata de Groot.

Bila euro berakhir, dolar runtuh, apa yang akan terjadi dengan rupiah? Mulailah biasakan diri bertransaksi dengan Dinar dan Dirham, sesegera mungkin.


Sumber : www.wakalanusantara.com