WAKALA DIRHAM BIMA

Thursday, 26 May 2011

Buku Euforia Emas Telah Diluncurkan Dalam Versi E-Book


Buku karya terbaru H. Ir Zaim Saidi, MPA, Euforia Emas: Mengupas Kekeliruan dan Cara yang Benar dalam Mengembangkan Dinar, Dirham dan Fulus agar Sesuai Al Qur'an dan Sunnah (Pustaka Adina, 2011), segera akan terbit. Sementara itu, dalam versi e-book, sebagian isi buku tersebut dapat diunduh dan dibaca di sini. Password e-book ini adalah: dirham

Berikut adalah Daftar Isi buku setebal sekitar 260 halaman tersebut.

Kata Pengantar v

  1. Persoalan Saat Ini adalah Riba 1

1. Ketika Riba Telah Menjadi Cara Hidup 3

2. Dosa Riba hanya Kalah dari Dosa Syirik 7

3. Apa Saja yang Termasuk Riba? 11

4. Uang Kertas adalah Riba 15

Tiga Rukun Transaksi 16

Tidak Semua Benda adalah Uang 17

Metamorfosis Uang Kertas 19

Razia Uang Kertas 23

5. Bank Indonesia Milik Siapa? 27

Bank Sentral Milik Keluarga-Keluarga 27

BI Milik Siapa? 29

Neokolonialisme Berlanjut 30

6. Antisipasi Redenominasi 33

Memahami Redenominasi 34

Nasib Rupiah 35

Pilihan Masyarakat: Dinar, Dirham, dan Fulus 38

7. Keniscayaan Runtuhnya Sistem Riba 39

Pat Gulipat Bank Ketupat 41

Pat Gulipat Neraca 42

  1. Yang Berharga Tinggal Dinar dan Dirham 49

1. Kedigdayaan Dinar Emas dan Dirham Perak 51

Stabil Jangka Pendek dan Panjang 56

Bukti Empiris 58

Harga BBM Pun (Seharusnya) Stabil 61

2. Penetapan Standar Dinar dan Dirham 65

3. Dinar Dirham dan Fulus Awal 69

4. Siapa Berhak Menerbitkan Dinar Dirham dan Fulus? 75

Dinar Dirham Mutakhir: Dimulai dari Granada 77

Enam Abad Dinar Dirham Made in Indonesia 79

Lantas Kapan Dinar dan Dirham sampai ke Indonesia? 81

Pebisnis Dinar yang Menyimpang 84

5. Memahami Peran dan Fungsi Fulus 87

6. Dinar: Emas 22 Karat atau 24 Karat? 91

7. Ayat-ayat Al-Quran dalam Dirham, Dinar dan Fulus 99

8. Corak Ragam Dinar Dirham dan Fulus 103

III. Penyimpangan dan Penyalahgunaan Dinar, Dirham, dan Fulus 117

1. Cara Pandang Keliru atas Emas dan Perak 119

Dinar Dirham Bukan Investasi 120

Bentuk-bentuk Penyalahgunaan dan Penyimpangan 121

Mencicil dan Mengkredit Emas 122

Menabung atau Menimbun Emas? 125

Di Manakah Batas antara Menabung dan Menimbun Harta? 126

Meng-qirad-kan Dinar Emas 126

2. Tidak Syar'inya Gadai Syari'ah 129

Pegadaian atau Perbankan? 130

Gadai Syariah Emas dan Dinar Emas 131

3. Berkebun Emas: Tak Ada Kebunnya, Tak Ada Emasnya 135

Model 1 Tanpa Penambahan Dana Segar 136

Model 2. Dengan Penambahan Dana Segar 140

Menimbun versus Menabung 144

4. Kecurangan Kadar Emas Perhiasan di Pasaran 147

Penyimpangan Berat 148

Penyimpangan Kadar 149

Kesimpulan 151

5. Fulus Melimpah, Bencana Lumrah 153

Tiga Solusi, Juga bagi Kondisi Saat ini 155

  1. Mengamalkan Kembali Muamalat 159

Mukaddimah 161

1. Dunia Berebut Emas dan Perak 163

Cina Menuju Kuasai Dunia? 164

Posisi Bangsa Lain dan Indonesia 168

Di Mana Posisi Indonesia? 168

2. Emas dan Perak Kembali Menjadi Uang Dunia? 171

Rakyat AS pun Kembali Ke Emas dan Perak 173

3. Menegakkan Takaran dan Timbangan 177

Diyat di Nusantara 179

4. Menegakkan Rukun Zakat 183

Harta yang Wajib Dizakati 184

Prosedur Penarikan Zakat 187

Cara Menghitung dan Membayarkan Zakat 189

Hampir 6.000 Dirham Zakat Dibagikan 189

5. Menegakkan Perdagangan dan Sunnah Pasar 191

Sunnah di Pasar, Sunnah di Masjid 192

Membangun Kembali Karavanseri 195

Imarah: Sebuah Cita Cita 197

6. Mengamalkan Kembali Qirad dan Syirkat 199

Kembalinya Qirad dan Karavan 201

Perdagangan Mobil, Gamis, dan Gas Elpiji 202

7. Di Mana Menyimpan Dinar Dirham Anda? 205

8. Dinar dan Dirham Dilindungi oleh UUD 1945 209

Bertentangan dengan UU Lainnya dan Konstitusi 211

V. Dirham sebagai Lokomotif 213

1. Kembalinya Fitrah Perak 215

Bagaimana Posisinya Saat ini? 216

Kemudahan Belanja dengan Dirham 218

Dirham Shopping Day di Cilincing 220

Arisan Dirham Dinar di Mana-mana 221

2. Seruan Lantang Gunakan Perak 225

Keiser Report 96: Kampanye Global Gunakan Perak 228

3. Bersedekahlah, Meskipun Hanya Sedaniq Dirham 231

4. Bergabunglah bersama Garnissun Bangsa 239

Tebar Sejuta Dirham 241

Madrasah Nurul Iman Menerima Dirham 243

5. Dirham Bebaskan Dhuafa dari Rentenir 245

VI. Penutup

Lampiran Pernyataan dari Imam Hajj Abdalhasib Castineira 251

Untuk memberikan komentar atau masukan, juga yang berminat memesan versi cetaknya, harap kirim email ke: info@wakalanusantara.com.

Wednesday, 25 May 2011

India: Negeri Miskin, Rakyatnya Kaya


India adalah negeri berpenduduk terbesar kedua (sekitar 1.1 milyar orang) sesudah Cina, dan di dunia internasional acap dipotret sebagai negeri yang relatif miskin. GNP-nya baru sekitar 510 USD/kapita. Tetapi, meski negerinya miskin, kita tak pernah mendengar India mengalami "Krisis Moneter". Apa rahasianya? Ternyata karena rakyatnya memiliki emas. Negerinya "miskin", tapi rakyatnya kaya.

Rakyat India yang beragama hindu memiliki tradisi Festival Emas (Akshaya Tritiya). Pemakaian emas dalam perayaan ini dipandang sebagai bentuk pemuliaan para dewa. Tak heran, sebagimana dipantau oleh World Gold Council (WGC) permintaan emas di negeri "miskin" ini terus meningkat dari tahun ke tahun.

Menurut WGC, sekitar 16 ribu ton emas dimiliki oleh rakyat India, utamanya dalam bentuk perhiasan. Dengan jumlah emas ini diperkirakan nilai pasar emas di India mencapai sekitar 27.2 triliun rupe atau setara 591 milyar dolar AS. Dan nilai ini hampir setara dengan dua kali lipat cadangan devisa bank sentral India, Royal Bank of India (RBI).

Jadi, kalau pun negara India banyak dililit berutang, dan jika terpaksa, rakyatnya sendiri pun tidak mustahil akan mampu membayarnya. Persoalannya adalah: kalau rakyatnya sudah sedemikian kaya mengapa negara masih juga berutang pada bank? Tampaknya memang demikianlah sistem politik yang berlaku saat ini, dalam sistem demokrasi, tak lain adalah menghasilkan pemerintahan yang bukan melayani kepentingan rakyat tetapi kepentingan para bankir.

Untuk itulah APBN diciptakan. Tidak banyak disadari bahwa bisnis terbesar perbankan adalah pada APBN sebuah negara. Tugas pemerintah adalah merancang APBN, untuk segala proyek yang umumnya tak terkait dengan kehidupan rakyat, hingga kredit dari bank dapat diserap oleh pemerintah. Tugas kedua pemerintah menghabiskan anggaran tersebut, yang sebagian darinya (dalam jumlah yang cukup besar) untuk dikorupsi. Dan tugas keiga menarik pajak dari rakyat untuk mencicil kredit berbunga tersebut.


Sumber :

http://wakalanusantara.com/detilurl/India:.Negeri.Miskin,.Rakyatnya.Kaya/807

Friday, 20 May 2011

Dengan Dinar Diperoleh Lebih Banyak Semen


Salah satu usaha yang tidak pernah surut dalam kehidupan kita adalah usaha yang terkait dengan tiga kebutuhan dasar, yaitu pangan, sandang dan papan. Dan pada ketiga kebutuhan dasar ini pulalah kita selalu paling merasakan semakin merosotnya nilai uang kertas kita. Buktinya jumlah rupiah yang kita butuhkan untuk membeli kebutuhan pokok itu, untuk jumlah yang sama, dari waktu ke waktu semakin banyak saja. Selalu tidak seimbang dengan peningkatan jumlah pendapatan masyarakat.

Sebagai misal, sekitar sepuluh tahun lalu harga semen adalah Rp 20.000/sak, hari ini sekitar Rp 54.000. Padahal jumlah semen itu per saknya tidak berubah, tetap 50 kg. Karena itu pemakaian kembali alat tukar dinar emas dan dirham perak menjadi penolong yang sangat jitu dalam mengatasi kemerosotan nilai uang kertas. Transaksi pada ketiga kebutuhan pokok ini akan menjadi mudah bila dilakukan dengan dinar emas dan dirham perak. Bahkan terbukti malah menjadi lebih murah.
Itu sebab, toko Bintang Jaya, di bilangan tanah baru telah bersedia menerima pembayaran dengan Dinar emas dan Dirham perak. Karena ini juga akan menjaga keutuhan stok barang dagangan. Sebab, bila transaksi dilakukan dalam uang kertas, nilainya lebih cepat merosot, hinga ketika hendak dibelanjakan untuk mengganti stok yang berkurang, tidak mampu mendapatkan jumlah yang sama.

Begitulah, jual beli material dalam dinar emas dan dirham perak pun kembali terjadi. Pak Zaim Saidi membayarkan tagihan berbagai kebutuhan bahan bangunan, seperti semen, besi, cat, dan pasir, sebanyak 3 Dinar emas dan 1 Dirham perak. Ini terjadi awal Mei 2011 lalu. Ini adalah transaksi kedua dalam Dinar dan Dirham yang dilakukan di toko Bintang Jaya tersebut.
Bagi pengguna Dinar dan Dirham berbelanja bahan bangunan malah menjadi semakin murah. Pada tahun 2000, ketika harga semen Rp 20.000/sak, 1 Dinar emas (saat itu setara Rp 400.000) bisa ditukar dengan 20 sak semen. Saat ini, ketika harga semen sudah Rp 54.000/sak, 1 Dinar emas (saat ini setara sekitar Rp 1.820.000) malah bisa ditukar dengan lebih dari 32 sak semen.
'Allah Maha Pemberi dan Pengatur Rezeki.' Selalu gunakanlah Dinar emas dan Dirham perak.