WAKALA DIRHAM BIMA

Tuesday 13 March 2012

Cikal Bakal Kampung Jawara di Surabaya

Kampung Jawara adalah suatu wilayah yang banyak warganya yang menerima Dinar dan Dirham. Paling tidak di situ ada lima kedai atau usaha yang menerima pembayaran dengan Dinar dan Dirham, hingga warga setempat maupun anggota masyarakat dari tempat lain dapat membelanjakan Dinar atau Dirhamnya dengan cukup mudah. Saat ini Kampung Jawara terbesar adalah di Kampung Nelayan, Cilincing, Jakarta Utara, dengan lebih dari 75 kedai atau usaha menerima Dinar dan Dirham. Yang kedua adalah yang ada di kawasan Tanah Baru, Depok, yang juga terdapat cukup banyak kedai, di antaranya sebuah minimarket, SahlanMart, yang setiap harinya menerima transaksi dengan Dinar dan Dirham.

Kini sebuah Kampung Jawara baru tengah dalam pertumbuhannya, yakni di Surabaya, Jawa Timur. Tepatnya di gang Pagesangan IIIB, yang bagi masyarakat di luar warga Surabaya, bisa jadi tak terbayangkan lokasinya. Tetapi ada sebuah land mark yang akan memudahkan masyarakat menandai Gang Pagesangan ini, yaitu Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS), yang berada di Jl Pagesangan Raya. Gang Pagesangan IIIB berada tak seberapa jauh dari masjid megah yang sangat dikenal di kota Surabaya itu.

Kehadiran Wakala Ar Rohmah yang berlokasi di Gang Pagesangan benar-benar membawa rahmat bagi warga sekitarnya. Pak Nur Kholis, yang mengelola Wakala Ar Rohmah, bahkan sudah mulai memperkenalkan Dinar dan Dirham kepada warga setempat sebelum mengoperasikan wakalanya. Di rumahnya sendiri, bersama istrinya, Ibu Wiwin ia mengelola gerai herbal dan kosmetik, yang tentu saja menerima pembayaran dengan Dinar dan Dirham. Tetangga sebelahnya, Gerai Aisyah, yang menjual pulsa elektrik juga telah bergabung menjadi anggota Jawara. Tak jauh dari situ ada sejumlah usaha lain, seperti agen air minum dan gas, ada toko roti, taman kanak-kanak, toko kelontong, dan usaha pengrajin sepatu. Ibu Wiwiek, pemilik dan pengelola kerajinan sepatu 'Flass', begitu mendapatkan penjelasan tentang Jawara, secara spontan bersedia menerima pembayaran Dinar dan Dirham. 'Saya langsung membeli sepasang sepatu dan sandal pada Ibu Wiwiek,' ujar Pak Abdarrahman Rachadi yang pagi itu mengunjungi Wakala Ar Rohmah. 'Kedua alas kaki seharga Rp 180.000 ini sebagiannya dibayar dengan Dirham. Mbak Wiwiek, sang pembuat sepatu menerima 1 Dirham perak + Rp 120.000,' tambah Pak Abdarrahman.

Dari Kampung Pagesangan diharapkan perkembangan Jawara di Surabaya semakin cepat berlangsung. Kota Surabaya yang dikenal sebagai 'Kota Pahlawan' ini, semoga juga segera dikenal sebagai 'Kota Jawara Dinar'.

Sumber : www.wakalanusantara.com

Di Jatim, ICMI Dukung JAWARA

Pada waktu awal pengenalan kembali Dinar dan Dirham di Indonesia, ICMI termasuk mengambil peranan aktif. Salah satunya adalah menjadikan Dinar dan Dirham sebagai topik bahasan utama dalam Silaknas ICMI, di Pontianak, tahun 2002. Ketika itu, Silaknas ICMI menghadirkan Pak Zaim Saidi, pengelola Wakala Adina (sebelum ada WIN, yang berdiri 2008) yang merupakan pelopor wakala di Indonesia, sebagai pembicara utama. Pak Adi Sasono, Pak Soegiharto, dan para petinggi ICMI lainnya, adalah para pendukung utama pengembalian Dinar dan Dirham. Sayang, semua itu hanya sebatas wacana, belum pernah ada tindakan nyatanya.

Karena itulah, dalam pertemuan silaturahmi antara pengurus Jawara, baik pusat maupun Jawara Jatim, dengan Ketua ICMI Korwil Jatim, Bapak Ismail Nachu, di kantor ICMI Jawa Timur, pekan lalu, pembicaraan berlangsung pada tingkat yang lebih kongkrit. Dari perbincangan antara rombongan Pak Zaim Saidi dengan Pak Ismail Nachu diperoleh benang merah yang sama: baik Jawara maupun ICMI ingin membangkitkan jaringan pedagang dan perdagangan Muslim di negeri ini. "Biar pemuda-pemuda Muslim ini bisa berkembang menjadi para saudagar, dan tidak melulu terjebak menjadi 'broker' politik," kata Pak Ismail.


Karena memiliki kesamaan visi dan misi maka Pak Ismail menyatakan dukungannya atas kehadiran Jawara (Jaringan Wiraswasta dan Penguna Dinar Dirham Nusantara) Jawa Timur. Ia menyatakan sepakat dengan pendekatan Jawara dengan FHP-nya (Festival Hari Pasaran) Dinar Dirham yang selama ini telah diselenggarakan, dan baru saja usai di Gresik dan Surabaya. Karena itu, dalam waktu dekat, Pak Zaenal Fatoni, Wakil Ketua Jawara Jatim, yang turut dalam rombongan, akan segera menyampaikan usulan kerja sama antara Jawara Jatim dan ICMI Jatim.

Sumber : www.wakalanusantara.com

Thursday 19 January 2012

FHP Surabaya di MEC Jambangan

Diawali acara Ngobrol Asyik Dinar Dirham pada akhir bulan November 2011, kegiatan sosialisasi penggunaan dinar dirham di masyarakat Surabaya semakin digencarkan.

Setelah sosialisasi melalui radio SHAM FM dan Radio Perak Jaya, rencana ke depan akan dilaksanakan kegiatan yang melibatkan masyarakat lebih luas lagi. Tanggal 12 Februari 2012 adalah tanggal yang akan menjadi sejarah bagi warga Jawa Timur, khususnya kota Surabaya, sebagai waktu pertama kalinya para pedagang menjajakan barang dagangannya di pasar yang sesuai sunnah Rasulullah SAW yang di dalamnya tidak ada pajak, uang sewa dan klaim tempat.

Bekerjasama dengan pihak Mandiri Enterpreneur Centre (MEC), Jawara Jatim akan melaksanakan acara sosialisasi dinar dirham dibarengi acara bedah buku ‘Euforia Emas’ oleh penulisnya Ir. H. Zaim Saidi, M.P.A., sekaligus pelaksanaan Festival Hari Pasaran (FHP). Seperti pelaksanaan FHP di daerah-daerah lain, sehari sebelumnya, akan dibagikan zakat maal dalam bentuk dirham perak sebanyak tidak kurang dari 100 dirham dari Baitul Maal Nusantara (BMN) kepada mustahik berjumlah sekitar 100 orang di sekitar Jl. Jambangan, tempat diselenggarakannya FHP.

Mandiri Enterpreneur Centre (MEC) adalah salah satu program dari Yayasan Yatim Mandiri (YM) yang merupakan program pendidikan untuk anak-anak yatim purna asuh yang berupaya memberi bekal ketrampilan berwirausaha. Selama 1 tahun mereka mendapatkan training intensive dan magang, juga materi nilai-nilai keislaman. Dengan menggunakan dinar dirham dan kembali mengamalkan kontrak qirad dan syirkat, diharapkan anak-anak yatim tersebut pada saat membaur dengan masyarakat bisa menjadi pelopor di lingkungannya.

Selain dengan pihak MEC, kegiatan serupa akan dilaksanakan dalam 2-3 bulan ke depan di daerah Kebonsari dengan Yayasan Darul Hikmah Surabaya dan pihak Masjid Universitas Airlangga di Jl. Dr. Sutomo Surabaya.

Bagi pedagang yang akan ikut berdagang di tempat pelaksanaan FHP, bisa menghubungi Jawara Surabaya :

Zafan : 0856 456 67 579

Winarsih : 0821 390 33 887

dan pihak MEC Ustadz Ahmad : 0856 455 05 366